Oleh : Windi Meilany
NIM : C1AA18119
Kelas : IA S1 KEPERAWATAN
Kejadian
diare pada anak balita masih tinggi di dunia termasuk di Indonesia, jika
mengalami keterlambatan penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan
menengah sangat terbebani dengan kondisi yang dapat dicegah dan diobati ini.
Apakah
diare itu? Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga
didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair
dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Bayi dikatakan diare bila sudah
lebih dari 3 kali buangair besar (Dewi, 2010)
Saat diare, tubuh akan mengalami
kehilangan cairan serta ion tubuh yang begitu banyak dan rentan mengalami
dehidrasi. Ketika kadar cairan pada tubuh berkurang maka akibatnya keseimbangan
ion akan terganggu, akibatnya fungsi organ dan jaringan tubuh tidak bekerja
secara optimal. Jika dehidrasi sudah ada dalam fase yang parah seseorang bisa
mengalami berbagai komplikasi serius seperti kejang, gangguan fungsi ginjal
hingga syok hipovolemik akibat kehilangan cairan yang begitu banyak. Syok ini
bisa menyebabkan pingsan ataupun kematian.
Dengan memberikan informasi kesehatan tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara
pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan
pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran yang akhirnya akan menyebabkan orang
berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Perilaku
negatif dapat menjadi penyebab terjadinya diare pada balita. Diare membutuhkan
penanganan yang cepat agar tidak terjadi dehidrasi. Pengetahuan mengenai
pencegahan dan penanganan diare sangat penting untuk diketahui oleh ibu yang
dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya dehidrasi baik ringan,
sedang, maupun berat. Jika terjadi dehidrasi dan tidak segera ditangani maka akan menyebabkan
kematian (Uswatun Khasanahi, Galuh Kartika Sari, 2016).
Apakah faktor pendidikan ibu
berpengaruh pada diare balita? Menurut penelitian Maidartati (2017) ada hubungan antara pendidikan dan
kejadian diare pada bayi yang menyebabkan pendidikan mempengaruhi pemikiran
seseorang dalam menerima informasi. Pendidikan yang dapat meningkatkan
kematangan intelektual seseorang dan merupakan faktor penting dalam proses
penarikan informasi, meningkatkan wawasan dan cara berpikir yang selanjutnya
akan memberikan persepsi pengetahuan, persepsi dan sikap menentukan seseorang
untuk mengambil keputusan untuk bertindak. Seorang ibu yang berpendidikan
tinggi dapat mencari tahu tentang kesehatan bayinya dan mencari tahu serta
bertanya kepada mereka yang lebih memahami (dokter dan bidan) yang
berpengalaman tentang cara menjaga kesehatan sehingga mereka tidak mudah sakit.
Maka dari itu pendidikan ibu penting dalam perawatan balit, karena ibu dengan
pendidikan rendah lebih tertutup dan tidak ingin mencari informasi tentang cara
menjaga kesehatan anak yang baik (Handayani, 2013).
Bagaimana
cara mencegah diare pada balita? Perilaku
pencegahan diare merupakan tindakan yang dilakukan oleh ibu balita untuk
mencegah terjadinya diare pada
balita. Perilaku ibu yang positif dalam
pencegahan diare ditandai dengan pemberian makanan yang higienis, menyediakan
air minum yang bersih, menjaga kebersihan perorangan, membiasakan mencuci
tangan sebelum makan, buang air besar pada tempatnya, menyediakan tempat
pembungan sampah yang memadai, memberantas lalat dan menjaga kebersihan
lingkungan.
Menurut Wahyudi (2009) menyatakan bahwa Pencegahan
diare pada balita juga dapat dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif pada
balita dan menghindari penggunaan botol susu.
Ibu balita juga perlu menyimpan dan menyiapkan MPASI dengan baik,
menggunakan air bersih dan melakukan
cuci tangan dengan sabun, serta membuang tinja dengan benar.
Prevalensi
diare dapat dikurangi melalui pendidikan higiene dan titik penggunaan air rumah
tangga seperti merebus. Untuk memaksimalkan dampak pada kesehatan anak-anak di
lingkungan pedesaan yang diberikan, intervensi di masa depan harus memastikan
pendidikan higienis yang teratur dan sistematis di tingkat rumah tangga dan
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Khasanah, U., Sari, K.
G. (2016). Hubungan
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Diare dengan Perilaku Pencegahan Diare Pada Balita. Jurnal Kesehatan "Samoedra Ilmu", 07(02), 149-159.
Subakti, A. F. (2015). Pengaruh Pengetahuan,
Perilaku Sehat dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Diare Akut di Kelurahan
Tlogopojok dan Kelurahan Sidorukun Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik. 142-153.
Sharifina, Hanifati., Fakhriadi,
Rudi., Rosadi, D. (2017). Pengaruh Faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Kejadian
Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat
Indonesia, vol 3, 88-93.
Magdalena, Irawati.,
Ratetempang, L, A., Pongtiku, Arry.,
Mallongi, Anwar. (2019). The Risk Factors Environment and Behavior Influence Diarrhea
Incidence to Child in Abepura Hospital Jayapura City. International
Journal of Science and Healthcare Research, vol 4, 170-180.
Diouf, Katharina.,
Tabatabai, Patrik., Rudolph, Jochen.,
Marx, Michael. (2014). Diarrhoea prevalence in
children under five years of age in rural Burundi: an assessment of social and
behavioural factors at the household level.1-9
