Senin, 21 Oktober 2019


The Seven Habits
of
Highly Effective People



            Dalam buku 7 Habits, Stephen R. Covey mempromosikan inspirasinya yang disebut “etika karakter” yang berdasarkan prinsip dan tata cara memimpin serta mengabaikan prinsip “etika kepribadian” yang memberikan sinyal kepalsuan dan ambiguitas. Karakter adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kebiasaan sulit berubah, tetapi bisa dirubah dengan komitmen yang sungguh-sungguh. Kebiasaan (habits) yang baik adalah persinggungan antara pengetahuan (knowlegde), keahlian (skill) dan keinginan (desire).
Kebiasaan adalah aktivitas yang dikerjakan tanpa perlu berpikir dulu dan 7 kebiasaan yang paling efektif menurut Covey :
1)  Be proactive, jadilah proaktif yang menjadi kendali seseorang terhadap lingkungan dibanding situasi sekelilingmu yang mengendalikanmu,
2)   Begin with the end in mind, mulai dengan akhir dipikiran atau disebut kepemimpinan pribadi. Dengan ini kamu dapat konsentrasi dan mempertimbangkan segala konsekwensinya sebelum bertindak, sehingga dapat produktif dan berhasil.
3)  Put first things first, dahulukan Yang Utama atau manajemen pribadi untuk mengimplementasikan dan mengelola kebiasaan no.2 yang bersifat mental, dan kebiasaan no.3 bersifat fisik.
4)  Think win-win, berpikir menang-menang atau kepemimpinan antar pribadi. Karena sasaran bergantung kepada hubungan dan kerjasama dengan lainnya, maka semua perlu bagian yang adil dan menguntungkan,.
5)    Seek first to understand and then to be understood, Berusaha mengerti dulu, baru minta dimengerti. Komunikasi adalah bagian penting, dan seperti analogi “diagnosis dulu sebelum memberikan resep”.
6)   Synergize, wujudkan sinergi/ kerjasama yang kreatif. Kekuatan kerjasama lebih besar dari upaya per bagiannya, jadi galilah potensi dan kebaikan konstribusi orang lain.
7)   Sharpen the saw, asahlah “Gergaji” keseimbangan pembaharuan diri, sehingga kebiasaan baik lainnya bisa tumbuh dan berkembang.

Oke sekarang kita bahas satu-persatu poin diatas ya teman-teman
1.      Be proactive, proaktif (visi pribadi)
Proaktivitas sebagai sifat manusia, kita memberi tanggapan terhadap kehidupan milik kita. Perilaku kita adalah suatu fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita bisa meletakkan perasaan kita kepada nilai-nilai. Kita memiliki inisiatif dan daya tanggap untuk membuat sesuatu terjadi.
Ada tiga nilai penting dalam kehidupan: pengalaman (yang terjadi pada diri kita), kreativitas (menjadikan ada), sikap (tanggapan terhadap persoalan sulit). Itu semua, adalah bagaimana kita menanggapi kepada apa yang kita alami di dalam kehidupan.
2.      Begin with the end in mind, Mulailah dengan akhir di pikiran kepemimpinan pribadi
Ketika kita memulai dengan akhir di pikiran, kita memiliki arahan pribadi yang menuntun aktivitas
sehari-hari, tanpa ada pergerakan pada sasaran kita. Memulai dengan akhir di pikiran adalah bagian dari kepemimpinan pribadi, pengendalian dari kehidupan yang kita miliki.
Segala sesuatunya dibuat dua kali. Kita menciptakannya pertama - tama dalam pikiran kita, dan kemudian kita mengerjakannya secara fisik. Dengan pengendalian dari penciptaan pertama milik kita, kita bisa menulis dan menulis ulang naskah, dengan demikian bisa melakukan beberapa kontrol dan pertanggung-jawaban hasil dan akibatnya. Kita menulis dan mengulang tulisan menggunakan angan-angan dan kata hati kita.
Titik awal di permulaan dalam akhir dalam pikiran adalah mengembangkan pernyataan misi, filosofi atau paham pribadi. Ini akan membantumu fokus pada apa yang kamu inginkan “menjadi“ (karakter), “mengerjakan” (kontribusi dan pencapaian) dan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip atas dasar keadaan dan apa yang dikerjakan olehmu. Pernyataan misi pribadi memberikan kita suatu pusat tumpuan yang tidak berubah, dimana kita bisa berurusan dengan perubahan eksternal.
3.      Put first things first, Dahulukan yang utama prinsip manajemen pribadi
Habit 1 - Saya adalah Programmer.
Habit 2 - Menulis Program.
Habit 3 - Mengaktifkan/melaksanakan Program.
Kebiasaan 3 (Habit 3) adalah Manajemen Pribadi, pelatihan kemandirian yang akan menciptakan kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai, sasaran dan misi yang dianut. Anugrah manusia yang keempat, Keinginan Bebas, adalah kemampuan untuk membuat keputusan, pilihan dan bertindak berdasar kepada dirinya. Integritas adalah kemampuan untuk membuat dan menjaga komitmen  kepada diri kita sendiri. Manajemen menyangkut pengembangan aplikasi spesifik dari ide-ide. Kita harus memimpin melalui otak kanan (secara kreatif) dan mengelola dari otak kiri (secara analitis).
Untuk mengendalikan perasaan, ayunan dan suasana hati kepada nilainilaimu, kamu harus menyalakan kata “YA” dalam hati, dan berkata “TIDAK” kepada yang lain. Kata “YA” adalah maksud, keinginan, perasaan nyata dari arah dan nilai kita.
4.      Think win-win, Pikirkan menang – menang
Menang/Menang adalah salah satu dari total enam filosofi dari interaksi manusia.
1. Menang/Menang - Manusia bisa mencari keuntungan bersama dalam berbagai interaksi. Prinsip yang berdasar perilaku.
2. Menang/Kalah - Paradigma kompetisi: jika saya menang, kamu kalah. Gaya kepemimpinan adalah diktator. Dalam hubungan ini, jika kedua orang tidak menang, keduanya kalah.
3. Kalah/Menang - Paradigma “Doormat”. Individu mencari kekuatan dari popularitas didasarkan pada penerimaan. gaya kepemimpinan adalah permisif/serba membolehkan. Hidup dalam paradigma ini bisa menghasilkan gangguan kejiwaan dari adanya tekanan kebencian.
4. Kalah/Kalah - Bila orang menjadi terobsesi dengan membuat yang lain kalah, meskipun dengan biaya miliknya. Ini adalah filosofi konflik permusuhan, perang atau orang yang sangat bergantung (jika tidak ada yang menang, menjadi kalah adalah tidak buruk).
5. Menang - Memfokuskan semata-mata mengambil apa yang diinginkan, tidak ada penghormatan kepada kebutuhan orang lain.
6. Menang/Menang or No Deal - Jika kita tidak menemukan pemecahan yang menguntungkan bersama, kita menyetujui untuk persetujuan tidak setuju - tidak ada “deal”. Pendekatan ini sangat realistik pada hubungan awal bisnis atau perusahaan, tidak ada pilihan yang lama.
5.  Seek first to understand and then to be understood, Berusaha untuk mengerti, baru minta  dimengerti
Kita sering mencatat sebelum membuat diagnosis yang tepat ketika berkomunikasi. Pertama-tama membutuhkan waktu untuk mengetahui secara mendalam masalah yang hadir pada kita.
Kunci nyata untuk mempengaruhi adalah sebagai contoh - tingkah lakumu. Unjuk kerja pribadi harus sebidang dengan penampilan publikmu. Jika orang tidak percaya kepadamu, dan mereka (tidak) percaya kamu mengerti mereka, mereka akan begitu marah, defensif, bersalah atau takut untuk dipengaruhi. Keahlian mendengar dengan empati harus dibangun pada suatu karakter yang meng-inspirasikan keterbukaan dan kepercayaan dan catatan bank emosi yang tinggi.
6.      Synergize, Sinergi prinsip kerjasama kreatif
Latihan dari kebiasaan-kebiasaan yang lain telah mempersiapkan kita untuk bersinergi. Sinergi bermakna keseluruhan adalah lebih besar dari pada jumlah setiap bagiannya. Suatu hubungan yang mana bagian-bagian yang memiliki setiap bagian lainnya adalah suatu bagian yang ada di dalamnya dan merupakan dirinya sendiri - bagian yang besar wewenangnya, menyatu dan menggairahkan. Intisari dari sinergi adalah perbedaan nilai-nilai - dengan menghormatinya, membangun kekuatan, dan mengkompensasikan kelemahan. Jalan untuk menacapai sinergi melalui proses kreatif, yang bisa menakutkan, karena kamu tidak pernah tahu kemana proses kreatif akan membawamu.
7.      Sharpen the saw, Prinsip keseimbangan pembaharuan-diri
Habit 7 adalah mengambil waktu untuk mengasah gergaji. Dengan memperbaharui empat dimensi dari sifat alamimu - fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional, kamu bisa bekerja lebih cepat dan tanpa kesulitan. Untuk mengerjakannya, kita harus proaktif. Ini adalah aktivitas Kuadran II (penting, namun tidak urgen) yang harus diaktifkan. Itu adalah pusat dari Lingkaran Pengaruh, maka kita mesti mengerjakannya untuk diri kita sendiri.

Karakter kita adalah kumpulan dari kebiasaan kita, dan kebiasaan memiliki peran yang kuat dalam kehidupan kita. Kebiasaan terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Pengetahuan memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, keterampilan memberi kita kemampuan untuk mengetahui bagaimana melakukannya, dan keinginan adalah motivasi untuk melakukannya.


Taburkan pemikiran, maka Anda akan menuai perbuatan,
Taburkan perbuatan, maka Anda akan menuai kebiasaan,
Taburkan kebiasaan, maka Anda akan menuai karakter,
Taburkan karakter, maka Anda akan menuai takdir.

Terimakasih kepada kalian yang sudah mampir di blog saya, semoga blog kali ini bermanfaat. Penulis mohon maaf jika masih banyak kesalahan baik dalam kata maupun dalam kalimat. See u di tulisan selanjutnyaaa….

Nama: Windi Meilany
Kelas : 2a S1 Keperawatan
#PMK
#PENDIDIKANMORALKARAKTER
#STIKESMI

Selasa, 14 Mei 2019

WASPADA MOM! Ternyata diare pada balita bisa menyebabkan kematian!

Oleh    : Windi Meilany
NIM    : C1AA18119
Kelas   : IA S1 KEPERAWATAN


Kejadian diare pada anak balita masih tinggi di dunia termasuk di Indonesia, jika mengalami keterlambatan penyakit ini bisa menyebabkan kematian.  Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah sangat terbebani dengan kondisi yang dapat dicegah dan diobati ini.
Apakah diare itu? Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Bayi dikatakan diare bila sudah lebih dari 3 kali buangair besar (Dewi, 2010)
Saat diare, tubuh akan mengalami kehilangan cairan serta ion tubuh yang begitu banyak dan rentan mengalami dehidrasi. Ketika kadar cairan pada tubuh berkurang maka akibatnya keseimbangan ion akan terganggu, akibatnya fungsi organ dan jaringan tubuh tidak bekerja secara optimal. Jika dehidrasi sudah ada dalam fase yang parah seseorang bisa mengalami berbagai komplikasi serius seperti kejang, gangguan fungsi ginjal hingga syok hipovolemik akibat kehilangan cairan yang begitu banyak. Syok ini bisa menyebabkan pingsan ataupun kematian.
Menurut Notoatmodjo(2012) mengatakan bahwa Masih terdapatnya ibu balita yang berpengetahuan tentang diare dalam kategori kurang menuntut peran serta petugas kesehatan. khususnya bidan untuk memberikan penyuluhan kesehatan tentang diare kepada ibu balita.
Dengan memberikan informasi kesehatan  tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran yang akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Menurut Fikri Arif Subakti (2015) dalam jurnalnya menyebutkan bahwa Berdasarkan hasil uji chi square dapat diketahui ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan responden tentang perilaku sehat dengan kejadian diare akut. Hal ini disebabkan masih ada sebagian responden ibu balita yang belum mengetahui tentang perilaku sehat untuk menjaga kesehatan keluarga seperti selalu menjaga kebersihan diri dan makanan, menjaga kebersihan lingkungan rumah, memeriksakan kondisi kesehatan ketika terdapat gejala suatu penyakit ke puskesmas, menjaga pola istirahat serta menyempatkan untuk berekreasi guna menghilangkan stres yang dapat memicu suatu penyakit
Apa saja sih faktor penyebab diare? 
Perilaku negatif dapat menjadi penyebab terjadinya diare pada balita. Diare membutuhkan penanganan yang cepat agar tidak terjadi dehidrasi. Pengetahuan mengenai pencegahan dan penanganan diare sangat penting untuk diketahui oleh ibu yang dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya dehidrasi baik ringan, sedang, maupun berat. Jika terjadi dehidrasi dan  tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kematian (Uswatun Khasanahi, Galuh Kartika Sari, 2016).
Menurut mom apakah ada hubungan antara usia ibu dan diare balita? Menurut hasil penelitian Prita (2014) tidak ada hubungan antara usia ibu dan diare balita. Karena semua ibu memiliki kasih sayang terhadap anaknya. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2011) menyatakan bahwa Usia adalah karakter yang berkaitan dengan sifat manusia yang dapat membuat perbedaan dalam hasil penelitian atau yang dapat membantu menentukan hubungan penyebab penyakit, kondisi cedera, penyakit kronis dan penyakit lain yang dapat membuat manusia menderita. Menurut Gibson (1997) dalam Novrianda (2014), bahwa usia adalah faktor individu yang semakin bertambah usia, akan ada lebih banyak kematangan dan lebih banyak informasi. Namun, dalam penelitian ini, itu tidak sesuai dengan pendapat di atas yang dapat mempertimbangkan fakta-fakta tentang ibu dalam kaitannya dengan kebersihan toilet dan memiliki minat dalam mencuci tangannya sebelum dan menangani mencuci tangan dengan kebersihan yang baik dari balita ketika bermain, makan dan setelah buang air besar dan BAK.
Apakah faktor pendidikan ibu berpengaruh pada diare balita? Menurut penelitian Maidartati  (2017) ada hubungan antara pendidikan dan kejadian diare pada bayi yang menyebabkan pendidikan mempengaruhi pemikiran seseorang dalam menerima informasi. Pendidikan yang dapat meningkatkan kematangan intelektual seseorang dan merupakan faktor penting dalam proses penarikan informasi, meningkatkan wawasan dan cara berpikir yang selanjutnya akan memberikan persepsi pengetahuan, persepsi dan sikap menentukan seseorang untuk mengambil keputusan untuk bertindak. Seorang ibu yang berpendidikan tinggi dapat mencari tahu tentang kesehatan bayinya dan mencari tahu serta bertanya kepada mereka yang lebih memahami (dokter dan bidan) yang berpengalaman tentang cara menjaga kesehatan sehingga mereka tidak mudah sakit. Maka dari itu pendidikan ibu penting dalam perawatan balit, karena ibu dengan pendidikan rendah lebih tertutup dan tidak ingin mencari informasi tentang cara menjaga kesehatan anak yang baik (Handayani, 2013).

Bagaimana cara mencegah diare pada balita? Perilaku pencegahan diare merupakan tindakan yang dilakukan oleh ibu balita untuk mencegah terjadinya diare  pada balita.  Perilaku ibu yang positif dalam pencegahan diare ditandai dengan pemberian makanan yang higienis, menyediakan air minum yang bersih, menjaga kebersihan perorangan, membiasakan mencuci tangan sebelum makan, buang air besar pada tempatnya, menyediakan tempat pembungan sampah yang memadai, memberantas lalat dan menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut Wahyudi (2009) menyatakan bahwa Pencegahan diare pada balita juga dapat dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif pada balita dan menghindari penggunaan botol susu.  Ibu balita juga perlu menyimpan dan menyiapkan MPASI dengan baik, menggunakan air bersih dan  melakukan cuci tangan dengan sabun, serta membuang tinja dengan benar.
Prevalensi diare dapat dikurangi melalui pendidikan higiene dan titik penggunaan air rumah tangga seperti merebus. Untuk memaksimalkan dampak pada kesehatan anak-anak di lingkungan pedesaan yang diberikan, intervensi di masa depan harus memastikan pendidikan higienis yang teratur dan sistematis di tingkat rumah tangga dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Khasanah, U.,  Sari, K. G. (2016). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Diare dengan Perilaku Pencegahan Diare Pada Balita. Jurnal Kesehatan "Samoedra Ilmu", 07(02), 149-159.
Subakti, A. F. (2015). Pengaruh Pengetahuan, Perilaku Sehat dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Diare Akut di Kelurahan Tlogopojok dan Kelurahan Sidorukun Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik. 142-153.
Sharifina, Hanifati., Fakhriadi, Rudi., Rosadi, D. (2017). Pengaruh Faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, vol 3, 88-93.
Magdalena, Irawati., Ratetempang, L, A.,  Pongtiku, Arry., Mallongi, Anwar. (2019). The Risk Factors Environment and Behavior Influence Diarrhea Incidence to Child in Abepura Hospital Jayapura City. International Journal of Science and Healthcare Research, vol  4, 170-180.
Diouf, Katharina., Tabatabai, Patrik.,  Rudolph, Jochen., Marx, Michael.  (2014). Diarrhoea prevalence in children under five years of age in rural Burundi: an assessment of social and behavioural factors at the household level.1-9